Tradisi Garebeg Syawal 2026 di Yogyakarta Diserbu Warga, Gunungan Jadi Rebutan

arazone

TAU.ID, YOGYAKARTA – Tradisi Garebeg Syawal 2026 yang digelar oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menarik perhatian masyarakat. Acara yang menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah ini berlangsung meriah dan dipadati warga yang ingin menyaksikan prosesi budaya sekaligus berburu berkah dari gunungan.

Sejak pagi hari, ribuan warga terlihat memadati kawasan sekitar Masjid Gedhe Kauman. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung tradisi tahunan yang sarat nilai sejarah dan budaya tersebut. Garebeg Syawal 2026 tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan antara keraton dan masyarakat.

Antusiasme masyarakat dalam Garebeg Syawal 2026 menunjukkan bahwa tradisi ini tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Selain sebagai bentuk rasa syukur setelah Idul Fitri, acara ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.

 

Warga Padati Masjid Gedhe Kauman Sejak Pagi

Dari pantauan di lokasi, masyarakat tampak memadati area depan Masjid Gedhe Kauman sejak pagi. Mereka menunggu iring-iringan bregada prajurit keraton yang membawa gunungan dari kompleks Keraton menuju masjid.

Saat rombongan melintas, warga langsung mendekat untuk menyaksikan lebih dekat prosesi tersebut. Tidak sedikit yang mengabadikan momen menggunakan ponsel, sementara yang lain bersiap mendapatkan bagian dari ubo rampe gunungan.

Setelah prosesi doa, abdi dalem keraton mulai membagikan isi gunungan kepada masyarakat. Suasana pun semakin meriah ketika warga berebut hasil bumi yang dipercaya membawa berkah.

Pengalaman Warga yang Datang dari Luar Daerah

Salah satu pengunjung, Endang, warga asal Tambun, Bekasi, mengaku sengaja datang ke Yogyakarta untuk menyaksikan Garebeg Syawal bersama anaknya.

“Saya (datang menyaksikan Garebeg) sejak anak saya masih kecil, sampai anak saya sudah lulus kuliah,” ujar Endang saat ditemui di depan Masjid Gedhe Kauman, Jumat (20/03/2026).

Ia menjelaskan bahwa dirinya tengah mudik ke Yogyakarta dan langsung menuju lokasi setelah melaksanakan salat Idul Fitri bersama keluarga.

“Mudik ke Yogya. Tadi Shalat Id bersama keluarga langsung kemari untuk melihat Garebeg Syawal,” tambahnya.

Endang bersama anaknya juga berhasil mendapatkan ubo rampe dari gunungan. Mereka mengabadikan momen tersebut sebagai kenang-kenangan.

“Buat kenang-kenangan aja, tahun ini masih bisa ke Yogya,” ucapnya.

Prosesi Garebeg Syawal 2026 Dimulai Sejak Subuh

Rangkaian Garebeg Syawal dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan persiapan bregada prajurit di kompleks Kamandhungan Kidul Keraton. Setelah itu, iring-iringan prajurit membawa gunungan melintasi berbagai titik penting di kawasan keraton.

Prosesi dilanjutkan dengan perjalanan dari Bangsal Pancaniti menuju Masjid Gedhe Kauman melalui rute yang telah ditentukan. Gunungan yang telah didoakan kemudian didistribusikan ke beberapa lokasi seperti Pura Pakualaman, Kepatihan, dan Ndalem Mangkubumen.

“Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor akan dibawa oleh Kanca Abang melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran-keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Di Masjid Gedhe setelah didoakan, akan ada gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman dan peraden yang dibawa ke kompleks Kepatihan serta ke Ndalem Mangkubumen,” ujar Panghageng II Kawadanan Reksa Suyasa (KRT) Kusumanegara dalam keterangan tertulis.

Lima Jenis Gunungan dalam Garebeg Syawal

Pada Garebeg Syawal 2026, terdapat lima jenis gunungan yang menjadi bagian utama prosesi. Gunungan tersebut terdiri dari Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, serta Gunungan Pawuhan.

Dua Gunungan Kakung disiapkan untuk Masjid Gedhe Kauman dan Pura Pakualaman. Sementara itu, bagian gunungan berupa pareden wajik didistribusikan ke Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen.

Gunungan Pawuhan secara khusus diberikan kepada Abdi Dalem Pengulon sebagai bagian dari tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.

Makna Filosofis Garebeg Syawal

Garebeg Syawal tidak sekadar tradisi seremonial, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam. Gunungan yang berisi hasil bumi melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang diberikan raja kepada rakyatnya.

Dalam konteks budaya Jawa, Garebeg Syawal merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas datangnya hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama Ramadan. Tradisi ini juga mencerminkan hubungan harmonis antara pemimpin dan masyarakat.

Makna tersebut menjadikan Garebeg Syawal sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan hingga saat ini.

Garebeg Syawal 2026 kembali menunjukkan daya tariknya sebagai tradisi budaya yang tidak hanya sarat makna, tetapi juga mampu menarik perhatian masyarakat luas. Antusiasme warga yang memadati lokasi menjadi bukti bahwa tradisi ini tetap hidup dan relevan. Ke depan, pelestarian budaya seperti Garebeg Syawal diharapkan terus dilakukan sebagai bagian dari identitas bangsa. (*)

Bagikan artikel ini
Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version