Sekolah di Sleman Pulang Lebih Awal Saat Puasa, Ini Aturan Lengkapnya

arazone

Tau.id, SLEMAN – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman menetapkan penyesuaian jam belajar siswa selama bulan Ramadan 1447 Hijriyah. Kebijakan ini mengurangi durasi setiap jam pelajaran sebanyak lima menit dari ketentuan normal. Informasi mengenai jam belajar Ramadan 2026 Sleman, aturan sekolah saat puasa, dan kebijakan Disdik Sleman terbaru menjadi topik yang banyak dicari menjelang bulan suci.

Penyesuaian jam pelajaran ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas ibadah siswa selama Ramadan, sekaligus menjaga efektivitas proses pembelajaran di satuan pendidikan. Dengan pemangkasan durasi tersebut, siswa dapat menyelesaikan kegiatan belajar lebih awal dibandingkan hari biasa.

Kebijakan ini berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan di bawah kewenangan Pemerintah Kabupaten Sleman, mulai dari PAUD/TK, SD, hingga SMP.

Rincian Pengurangan Jam Pelajaran Selama Ramadan

Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SD Disdik Sleman, Akhmad Ritaudin, menjelaskan bahwa pengurangan waktu dilakukan secara merata pada setiap jenjang.

Untuk sekolah dasar (SD), durasi satu jam pelajaran yang semula 35 menit menjadi 30 menit selama Ramadan. Sementara itu:

PAUD/TK: dari 30 menit menjadi 25 menit per jam pelajaran.

SMP: dari 40 menit menjadi 35 menit per jam pelajaran.

“Hal ini menyebabkan murid pulang lebih awal dibandingkan pembelajaran di bulan lain,” katanya, tempo hari.

Dengan kebijakan ini, total waktu belajar harian tetap berjalan, namun durasi tiap sesi lebih singkat sehingga tidak terlalu membebani siswa yang menjalankan ibadah puasa.

Contoh Jam Masuk dan Pulang Siswa SD

Sebagai gambaran umum, siswa SD kelas I dan II masuk pukul 07.00 WIB dan pulang sekitar pukul 11.15 WIB dengan rata-rata delapan jam pelajaran per hari.

Untuk kelas III hingga VI, jam masuk tetap pukul 07.00 WIB dan pulang sekitar pukul 11.45 WIB karena terdapat waktu istirahat 15 menit di sela pembelajaran. Khusus hari Jumat, kegiatan belajar lebih singkat dengan enam jam pelajaran sehingga siswa pulang pukul 10.00 WIB.

Jam tersebut telah mencakup pembiasaan pagi seperti mengaji, salat dhuha, hafalan surat pendek, serta kegiatan keagamaan lainnya.

Akhmad menegaskan bahwa jadwal tersebut bersifat gambaran umum. Setiap sekolah memiliki kekhasan dalam mengisi kegiatan pembelajaran selama Ramadan.

“Harapannya ketika anak anak belajar di satuan pendidikan, selain anak mendapatkan pelajaran intrakurikuler juga mendapatkan motivasi dari guru tentang nilai religius, toleransi dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Fokus Penguatan Karakter Selama Ramadan

Selain penyesuaian jam belajar, Disdik Sleman juga mendorong sekolah untuk menekankan program penguatan karakter selama Ramadan. Kegiatan yang dianjurkan antara lain pembiasaan ibadah, literasi keagamaan, hingga aktivitas sosial yang melibatkan keluarga dan masyarakat.

Langkah ini sejalan dengan semangat pendidikan karakter yang menekankan nilai religius, toleransi, serta kepedulian sosial di lingkungan sekolah.

Penyesuaian jam belajar selama Ramadan bukan kebijakan baru. Sejumlah daerah di Indonesia juga menerapkan kebijakan serupa setiap tahun untuk menyesuaikan ritme belajar dengan kondisi fisik siswa saat berpuasa.

Jadwal Libur Awal Ramadan 2026

Terkait jadwal libur awal Ramadan, Akhmad menyebut pihaknya belum menerima surat resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Namun, berdasarkan informasi resmi dari akun media sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (@kemenko_pmk), libur awal Ramadan disebutkan berlangsung pada 18–20 Februari 2026, ditambah libur akhir pekan pada 21–22 Februari 2026.

Adapun pembelajaran tatap muka selama Ramadan dijadwalkan berlangsung mulai 23 Februari hingga 13 Maret 2026.

“Kegiatan ini akan kami pantau,” katanya.

Kebijakan pengurangan jam pelajaran selama Ramadan 1447 H di Kabupaten Sleman diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan ibadah siswa. Dengan durasi belajar yang lebih singkat, siswa memiliki waktu lebih untuk beraktivitas bersama keluarga dan masyarakat tanpa mengurangi esensi pembelajaran.(*)

Bagikan artikel ini
Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version