Tau.id, Yogyakarta – Ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya memadati kawasan Pantai Ngobaran, Kabupaten Gunungkidul, untuk mengikuti Upacara Melasti sebagai rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Prosesi sakral ini menjadi bagian penting dalam tradisi umat Hindu untuk melakukan penyucian diri sekaligus membersihkan alam semesta sebelum memasuki hari raya Nyepi.
Upacara Melasti yang dilaksanakan di kawasan pantai selatan Yogyakarta ini berlangsung khidmat dengan dihadiri tokoh agama, pemuka masyarakat, serta jajaran pemerintah daerah. Ritual tahunan tersebut juga menarik perhatian masyarakat dan wisatawan karena sarat makna spiritual sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Selain menjadi kegiatan keagamaan, tradisi Melasti di Pantai Ngobaran juga memperkuat citra wilayah Gunungkidul sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Kehadiran pura dan situs budaya di kawasan tersebut memperlihatkan harmoni antara tradisi spiritual, budaya, dan pariwisata.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY, AKBP (Purn) I Nengah Lotama, menjelaskan bahwa Melasti merupakan ritual rutin tahunan yang memiliki makna penting dalam ajaran Hindu.
“Bahwa Melasti merupakan rangkaian rutin tahunan yang bertujuan untuk menyucikan diri dan alam semesta sebelum memasuki hari Nyepi,” kata Ketua PHDI DIY dalam sambutannya, Selasa.
Prosesi sakral ini diikuti oleh para Pinandita serta umat Hindu yang datang dengan penuh khidmat. Mereka melaksanakan berbagai tahapan ritual sebagai simbol pembersihan spiritual sebelum memasuki masa hening pada Hari Raya Nyepi.
Menurut Lotama, setelah prosesi Melasti di Pantai Ngobaran, rangkaian kegiatan keagamaan akan berlanjut pada upacara berikutnya.
“Setelah prosesi di pantai Ngobaran rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan sekitar dua minggu mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gunungkidul, Mukotib, menegaskan bahwa Pantai Ngobaran memiliki makna khusus sebagai simbol nyata toleransi dan kerukunan di wilayah tersebut.
“Di tempat ini, Pura Segara Wukir berdiri berdampingan dengan situs-situs bersejarah lainnya, membuktikan bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dirawat bersama,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan kehidupan sosial dengan semangat Sak Eko Kapti, yang berarti satu tekad bulat untuk menjaga persatuan. Selain itu, nilai Hamemayu Hayuning Bawono juga ditekankan sebagai kewajiban moral untuk merawat dan melestarikan alam semesta.
Ketua Panitia Upacara Melasti, Punaji, berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan pengelolaan yang semakin baik. Menurutnya, tradisi Melasti tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga berdampak positif bagi sektor pariwisata daerah.
“Pantai Ngobaran kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata unggulan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui kunjungan wisatawan,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, juga menegaskan bahwa Upacara Melasti bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ritual suci yang sarat makna spiritual bagi umat Hindu.
Ia menekankan pentingnya menjaga nilai Tri Hita Karana, yaitu konsep keseimbangan dalam ajaran Hindu yang mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
“Gunung Kidul adalah rumah bagi keberagaman. Perayaan Nyepi termasuk rangkaian Melasti hari ini menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan harus terus kita jaga,” katanya.
Rangkaian perayaan Nyepi sendiri biasanya meliputi beberapa tahapan penting, mulai dari Melasti, Tawur Agung Kesanga, hingga Hari Raya Nyepi yang identik dengan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga menjadi simbol refleksi diri, keseimbangan hidup, serta harmoni antara manusia dan alam.
