Tau.id, Yogyakarta – Kabar duka datang dari dunia musik dan gerakan mahasiswa. Pencipta lagu “Darah Juang”, Johnsony Marhasak Lumban Tobing atau yang dikenal sebagai John Tobing, meninggal dunia pada Rabu (25/02/2026) malam. Informasi mengenai wafatnya sosok yang dikenal melalui lagu perjuangan mahasiswa tersebut segera menyebar di kalangan aktivis dan masyarakat.
Kepergian John Tobing menjadi perhatian publik karena lagu “Darah Juang” selama ini dikenal luas sebagai lagu demonstrasi mahasiswa dan kerap dinyanyikan dalam berbagai aksi sosial maupun gerakan reformasi. Kata kunci seperti pencipta lagu Darah Juang meninggal, John Tobing wafat, dan kabar duka aktivis 98 langsung banyak dicari masyarakat setelah informasi tersebut beredar.
Sejumlah pihak membenarkan kabar tersebut, termasuk aktivis di Yogyakarta yang berada di lokasi rumah sakit saat proses penanganan jenazah berlangsung.

Kabar Duka Dikonfirmasi Aktivis
Salah satu aktivis di Yogyakarta, Baharuddin Kamba, membenarkan kabar meninggalnya John Tobing. Ia menyampaikan bahwa dirinya berada di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada saat dihubungi awak media.
“Iya. Saya juga masih posisi di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Jenazah masih dalam proses dimandikan,” ujar Baharuddin Kamba saat dihubungi Rabu (25/02/2025) dikutip dari Kompas.com.
Menurut Kamba, ia menerima informasi duka tersebut sekitar pukul 22.15 WIB. Setelah mendapatkan kabar, ia langsung menuju lokasi rumah sakit karena jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
“22.15 WIB tadi saya dapat informasi dari teman, terus saya menuju ke RSA karena dekat juga dengan rumah,” ucapnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab meninggalnya John Tobing. Informasi lebih lanjut masih menunggu pernyataan dari pihak keluarga atau rumah sakit.
Sosok di Balik Lagu “Darah Juang”
Nama John Tobing dikenal luas sebagai pencipta lagu “Darah Juang”, lagu yang identik dengan gerakan mahasiswa, khususnya pada era Reformasi 1998. Liriknya yang kuat dan sarat pesan perjuangan menjadikan lagu tersebut tetap relevan hingga kini.
Lagu “Darah Juang” tidak hanya dinyanyikan pada momentum demonstrasi mahasiswa, tetapi juga dalam berbagai kegiatan diskusi, peringatan sejarah, dan forum aktivisme. Bagi banyak kalangan, lagu tersebut menjadi simbol semangat perlawanan terhadap ketidakadilan.
Baharuddin Kamba menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya John Tobing. Ia menilai karya dan semangat yang ditinggalkan almarhum tidak akan hilang begitu saja.
“Sesama aktivis kita berduka dengan meninggalnya Bang John. Secara fisik dia meninggal tetapi karyanya, semangatnya untuk teman-teman aktivis tidak pernah padam,” ungkapnya.
Menurut Kamba, lagu “Darah Juang” masih memiliki relevansi hingga saat ini dan terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi aktivis yang berbeda zaman.
“Apalagi yang terkenal ciptaannya (lagu) Darah Juang itu memberi spirit tersendiri bagi teman-teman aktivis baik di eranya 98, terus aktivis yang saat ini sedang berjuang. (Lagunya) Masih relevan,” tuturnya.
Warisan Karya dan Semangat Perjuangan
Dalam konteks sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, lagu “Darah Juang” kerap dikaitkan dengan semangat Reformasi 1998. Pada masa itu, mahasiswa dari berbagai daerah turun ke jalan menyuarakan perubahan politik dan sosial.
Meski waktu terus berjalan, lagu tersebut tetap dinyanyikan dalam berbagai aksi mahasiswa masa kini. Hal ini menunjukkan bahwa karya John Tobing memiliki daya tahan lintas generasi.
Pengamat budaya menilai lagu-lagu perjuangan memiliki peran penting dalam membangun solidaritas kolektif. Lirik yang kuat dan mudah diingat membuat pesan perjuangan lebih mudah diterima dan diwariskan.
Kepergian John Tobing menjadi pengingat bahwa karya seni, khususnya musik, dapat memiliki dampak sosial yang luas dan berkelanjutan.
Menanti Informasi Resmi dari Keluarga
Hingga saat ini, informasi detail mengenai prosesi pemakaman maupun penyebab wafatnya John Tobing masih menunggu konfirmasi resmi dari keluarga. Pihak rumah sakit juga belum menyampaikan pernyataan terbuka terkait kondisi medis almarhum sebelum meninggal dunia.
Masyarakat diimbau untuk menunggu keterangan resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Sikap kehati-hatian penting untuk menjaga akurasi dan menghormati keluarga yang tengah berduka.
Kepergian John Tobing menambah daftar tokoh yang memberi warna dalam perjalanan sejarah gerakan mahasiswa Indonesia. Meski secara fisik telah tiada, karya “Darah Juang” diperkirakan akan terus dinyanyikan dan menjadi bagian dari dinamika sosial di Tanah Air.(*)
