Tau.id, Jakarta – Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 dipastikan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Informasi resmi mengenai jadwal gerhana bulan total, fase gerhana, hingga waktu puncak fenomena langit ini telah dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Sistem Informasi Observasi Gerhana.
Fenomena gerhana bulan total 3 Maret 2026 menjadi salah satu peristiwa astronomi yang banyak dicari masyarakat, terutama menjelang awal tahun 2026. Selain menawarkan pemandangan langit yang langka, peristiwa ini juga memiliki nilai edukatif karena memperlihatkan secara langsung dinamika pergerakan Matahari, Bumi, dan Bulan.
BMKG memastikan bahwa seluruh wilayah Indonesia, dari barat hingga timur, berkesempatan menyaksikan fase total gerhana. Meski demikian, keberhasilan pengamatan tetap bergantung pada kondisi cuaca di masing-masing daerah pada saat peristiwa berlangsung.
Indonesia Masuk Wilayah Visibilitas Gerhana

Berdasarkan data resmi BMKG, Indonesia termasuk dalam jalur visibilitas signifikan untuk Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026. Secara global, fenomena ini juga dapat diamati di sejumlah wilayah lain, seperti Amerika bagian timur, Australia, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Tengah.
BMKG menjelaskan bahwa meskipun seluruh Indonesia dapat melihat gerhana, terdapat sedikit perbedaan waktu awal fase di tiap zona waktu. Hal ini disebabkan perbedaan pembagian waktu antara WIB, WITA, dan WIT.
Dengan kata lain, masyarakat di berbagai provinsi tetap memiliki peluang yang sama untuk menyaksikan momen puncak ketika Bulan tampak berwarna kemerahan, selama langit dalam kondisi cerah dan tidak tertutup awan tebal.
Apa Itu Gerhana Bulan Total?
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Dalam posisi tersebut, Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti Bumi yang disebut umbra.
Saat Bulan berada di dalam umbra, cahaya Matahari tidak lagi langsung menyinari permukaannya. Namun, cahaya tetap mencapai Bulan setelah dibiaskan oleh atmosfer Bumi. Proses pembiasan ini membuat Bulan tampak berwarna merah tembaga atau jingga gelap, yang populer disebut sebagai Blood Moon atau Bulan Merah.
Fenomena ini hanya dapat terjadi pada fase purnama. Pergerakan benda langit yang telah dihitung secara astronomis dengan presisi tinggi memungkinkan waktu terjadinya gerhana diprediksi jauh hari sebelumnya.
Tahapan Fase Gerhana Bulan Total
Gerhana Bulan Total tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui sejumlah fase berurutan. Fase-fase tersebut meliputi masuknya Bulan ke bayangan penumbra, kemudian sebagian permukaan tertutup umbra, hingga seluruhnya berada dalam bayangan inti Bumi.
Tahap awal dimulai saat penumbra mulai menyentuh Bulan. Pada fase ini, perubahan visual belum terlalu tampak jelas. Selanjutnya, gerhana sebagian terjadi ketika sebagian permukaan Bulan mulai tertutup umbra.
Fase total dimulai ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi. Puncak gerhana menjadi momen ketika warna merah tampak paling intens. Setelah itu, Bulan secara bertahap keluar dari umbra, kembali ke fase sebagian, hingga akhirnya meninggalkan bayangan penumbra sepenuhnya.
Jadwal Lengkap Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
Berikut rincian waktu berdasarkan zona waktu di Indonesia sebagaimana dirilis BMKG:
Waktu Indonesia Barat (WIB)
Penumbra mulai: 15.42.44
Gerhana sebagian mulai: 16.49.46
Gerhana total mulai: 18.03.56
Puncak gerhana: 18.33.39
Gerhana total berakhir: 19.03.23
Gerhana sebagian berakhir: 20.17.33
Penumbra berakhir: 21.24.35
Waktu Indonesia Tengah (WITA)
Penumbra mulai: 16.42.44
Gerhana sebagian mulai: 17.49.46
Gerhana total mulai: 19.03.56
Puncak gerhana: 19.33.39
Gerhana total berakhir: 20.03.23
Gerhana sebagian berakhir: 21.17.33
Penumbra berakhir: 22.24.35
Waktu Indonesia Timur (WIT)
Penumbra mulai: 17.42.44
Gerhana sebagian mulai: 18.49.46
Gerhana total mulai: 20.03.56
Puncak gerhana: 20.33.39
Gerhana total berakhir: 21.03.23
Gerhana sebagian berakhir: 22.17.33
Penumbra berakhir: 23.24.35
BMKG menegaskan bahwa seluruh wilayah Indonesia tetap dapat mengamati fase total, dengan catatan cuaca mendukung dan tidak terjadi gangguan awan tebal atau hujan.
Aman Diamati Tanpa Pelindung Mata
Berbeda dengan Gerhana Matahari, gerhana bulan total aman untuk disaksikan secara langsung tanpa alat pelindung khusus. Masyarakat tidak perlu menggunakan kacamata khusus seperti saat mengamati gerhana Matahari.
Meski demikian, penggunaan teropong, teleskop, atau kamera dengan lensa tele dapat membantu memperoleh tampilan yang lebih detail. Lokasi dengan tingkat polusi cahaya rendah juga akan memberikan pengalaman pengamatan yang lebih optimal.
BMKG turut mengimbau masyarakat untuk memeriksa prakiraan cuaca sebelum melakukan pengamatan agar tidak terhalang kondisi langit yang kurang bersahabat.
Nilai Edukasi dan Potensi Wisata Astronomi
Selain menjadi tontonan menarik, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 juga memiliki nilai edukasi tinggi. Peristiwa ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran mengenai sistem tata surya, interaksi gravitasi, serta dinamika pergerakan benda langit.
Di sejumlah daerah, komunitas astronomi biasanya menyelenggarakan kegiatan pengamatan bersama atau diskusi publik untuk memberikan pemahaman ilmiah kepada masyarakat. Momentum ini juga berpotensi mendorong wisata astronomi, terutama di lokasi dengan kondisi langit yang relatif gelap dan minim polusi cahaya.
BMKG mengimbau masyarakat agar memperoleh informasi resmi hanya melalui kanal komunikasi lembaga tersebut untuk menghindari kesalahan informasi. Detail peta visibilitas dan pembaruan terkait gerhana bulan total 3 Maret 2026 dapat diakses melalui platform resmi BMKG.
Fenomena ini menjadi salah satu momen langit yang patut dicatat dalam kalender astronomi nasional. Dengan persiapan yang baik dan kondisi cuaca yang mendukung, masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan langsung peristiwa alam yang jarang terjadi ini.(*)
