Tau.id, Jakarta – Kabar meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran menjadi sorotan dunia internasional setelah sejumlah media resmi Iran mengonfirmasi wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Informasi mengenai kematian tokoh sentral dalam struktur politik dan keagamaan Iran itu pertama kali disampaikan oleh kantor berita pemerintah, memicu perhatian global terkait stabilitas kawasan Timur Tengah.
Isu terkait Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia, kondisi Teheran pascaserangan, serta potensi eskalasi konflik Iran–Israel langsung menjadi topik hangat dalam pemberitaan internasional. Perkembangan ini juga memunculkan spekulasi mengenai respons militer Iran dan dampaknya terhadap keamanan regional, termasuk hubungan Iran dengan Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan media Iran, kabar duka tersebut dikonfirmasi pada akhir Februari 2026. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang telah lama memegang posisi tertinggi dalam sistem Republik Islam Iran.

Media Iran Sebut Khamenei Wafat di Kantornya
Kantor berita Fars News Agency melaporkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Dalam laporannya, Fars menyebut Khamenei wafat di kantornya saat menjalankan tugas kenegaraan.
Laporan tersebut tidak merinci penyebab kematian maupun kronologi detail terkait peristiwa yang terjadi. Media Iran lainnya, termasuk Tasnim News Agency, turut mengonfirmasi kabar tersebut tanpa menyampaikan informasi tambahan mengenai sebab wafatnya pemimpin tertinggi Iran itu.
Hingga laporan tersebut dipublikasikan, otoritas Iran belum mengumumkan keterangan medis resmi terkait penyebab kematian Khamenei.
Iran Tetapkan 40 Hari Berkabung Nasional
Menyusul konfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah Iran mendeklarasikan masa berkabung selama 40 hari. Selain itu, tujuh hari ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Penetapan masa berkabung panjang ini sejalan dengan tradisi dan praktik keagamaan di Iran, khususnya dalam konteks penghormatan terhadap tokoh agama dan pemimpin tertinggi negara. Kebijakan tersebut diambil untuk memberikan ruang bagi masyarakat menyampaikan penghormatan terakhir serta menjaga stabilitas nasional.
Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei memiliki otoritas tertinggi dalam sistem politik negara tersebut, termasuk pengaruh besar terhadap kebijakan militer, keamanan, dan hubungan luar negeri.
Kompleks Beit-e Rahbari Dilaporkan Hancur
Sebelum kabar wafatnya diumumkan, laporan dari media internasional menyoroti kondisi kompleks kediaman resmi pemimpin tertinggi Iran. Mengutip laporan The New York Times, citra satelit yang dianalisis oleh Airbus Defence and Space memperlihatkan bangunan utama dalam kompleks Beit-e Rahbari mengalami kerusakan berat.
Kompleks Beit-e Rahbari dikenal sebagai pusat kegiatan resmi sekaligus kediaman Pemimpin Tertinggi Iran. Lokasi tersebut juga sering digunakan untuk menerima pejabat tinggi negara serta tokoh internasional.
Berdasarkan citra satelit yang dirilis, struktur bangunan utama beserta perimeter keamanannya dilaporkan hancur total setelah serangan yang disebut melibatkan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026. Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi rinci dari otoritas Iran terkait dampak langsung serangan tersebut terhadap Khamenei.
IRGC Umumkan Operasi Ofensif
Setelah konfirmasi wafatnya Khamenei, Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam pernyataan yang dimuat Fars pada Minggu, 1 Maret 2026, IRGC mengumumkan dimulainya operasi ofensif yang disebut sebagai salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Iran.
IRGC menyatakan operasi tersebut akan segera dimulai dan menargetkan wilayah yang disebut sebagai wilayah pendudukan serta pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah. Laporan mengenai pernyataan ini juga disampaikan oleh Al Jazeera.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyampaikan:
“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan akan disesali para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka.”
Selain menyatakan ancaman balasan, IRGC juga menyampaikan duka cita atas wafatnya Khamenei.
“Kita kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” tulis pernyataan tersebut.
IRGC menegaskan akan tetap berdiri teguh menghadapi apa yang disebut sebagai konspirasi domestik maupun asing.
Dampak Geopolitik dan Stabilitas Kawasan
Kematian Ayatollah Ali Khamenei berpotensi memicu dinamika baru dalam politik domestik Iran dan hubungan internasionalnya. Sebagai figur sentral sejak 1989, Khamenei memegang peranan penting dalam arah kebijakan strategis Iran, termasuk dalam isu nuklir, hubungan dengan negara-negara Barat, serta dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa transisi kepemimpinan di Iran akan menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas internal negara tersebut. Selain itu, ancaman operasi ofensif oleh IRGC meningkatkan kekhawatiran atas eskalasi konflik regional, terutama di tengah ketegangan yang telah berlangsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Hingga kini, komunitas internasional masih menunggu perkembangan lebih lanjut serta respons resmi dari negara-negara terkait.(*)
